Pekerjaan Ini Justru Bertahan di Era AI Meski Dikenal Terancam Hilang

Microsoft baru saja merilis daftar 40 pekerjaan yang memiliki tingkat paparan tertinggi terhadap teknologi artificial intelligence (AI) generatif. Dalam laporan tersebut, profesi berbasis bahasa menduduki posisi teratas, seperti penerjemah dan juru bahasa, yang menunjukkan keterkaitan erat antara kemampuan linguistik dan inovasi teknologi.

Selain itu, pekerjaan lainnya yang masuk dalam kategori rentan adalah yang berkaitan dengan pemrosesan informasi, seperti pekerjaan di bidang komputer, matematika, dan administrasi. Hal ini menunjukkan bahwa profesi yang membutuhkan analisis data dan pengolahan informasi strategis juga berisiko tinggi dihadapi oleh kemajuan AI.

Meskipun demikian, Microsoft menegaskan bahwa tingginya ketergantungan terhadap AI tidak berarti semua pekerjaan tersebut akan sepenuhnya tergantikan. Para profesional di sektor-sektor ini perlu memikirkan tentang bagaimana mereka dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan yang datang.

Pekerjaan dengan risiko paling tinggi terhadap penggantian AI

Dalam daftar yang dirilis, pekerjaan jurnalis dan penulis juga termasuk di antara profesi yang terpapar. Meski teknologi AI dapat membantu dalam produksi konten, banyak jurnalis yang merasa cemas akan potensi penggantian dan dampak pada kualitas jurnalisme itu sendiri.

Sebuah riset dari Nieman Lab menunjukkan bahwa lebih dari separuh jurnalis di Inggris menggunakan AI secara berkala dalam pekerjaan mereka. Meskipun alat-alat tersebut meringankan beban kerja, 62% dari mereka tetap merasa bahwa AI merupakan ancaman bagi dunia jurnalisme.

Keberadaan alat seperti Gemini dan NotebookLM menciptakan efisiensi dalam penyusunan draf berita dan optimasi SEO. Namun, tantangan etika dan disinformasi tetap menjadi isu penting yang harus dihadapi oleh industri ini.

Perkembangan penggunaan AI dalam jurnalisme

Pembicaraan tentang penggunaan AI dalam redaksi menjadi tema utama pada World Journalist Conference 2026. Dalam sesi yang membahas aplikasi AI dalam ruang media, pihak dari Xinhua News Agency menjelaskan bahwa mereka mengoperasikan hingga 230 alat AI dalam sistem kerja mereka.

Pebicara tersebut menekankan bahwa pemanfaatan AI bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan, khususnya di negara-negara yang menjadikan pengembangan AI sebagai prioritas nasional. Inovasi ini membuat sistem redaksi menjadi lebih efisien dan efektif dalam menjangkau audiens yang lebih luas.

Dari sudut pandang praktis, alat AI dapat membantu menyusun draf, menerjemahkan wawancara, dan memvisualisasikan ide-ide. Meskipun demikian, mereka juga harus waspada terhadap kesalahan yang dapat muncul, karena adanya risiko kehilangan kepercayaan publik.

Tantangan etika dan pemahaman jurnalis terhadap AI

Tantangan etika sangat penting dalam penggunaan AI di jurnalisme. Sebagai contoh, pengutipan atau penggunaan karya tulisan jurnalis tanpa memberikan kredit dapat merugikan ciptaan, menimbulkan pertanyaan seputar hak cipta dan plagiarisme.

Di sisi lain, tantangan lain muncul ketika AI mulai mengambil alih fungsi pekerjaan jurnalis. Hal ini mengarah pada pertanyaan: apa yang akan dilakukan jurnalis di era di mana banyak tugas mereka bisa dikerjakan oleh AI?

Dalam konteks tersebut, meskipun AI mampu membuat konten, hasil akhir yang diperlukan untuk journalism tetap memerlukan sentuhan manusia. Mempertahankan pertimbangan etis dan penilaian yang cermat adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh mesin.

AI dalam pengembangan mesin jurnalis

Beberapa perusahaan media, seperti Seoul Economic Daily, telah mulai mengembangkan mesin AI khusus untuk mendukung tugas-tugas jurnalis. Keempat mesin AI yang mereka bangun memiliki fungsi yang beragam, mulai dari membantu drafting hingga menerjemahkan artikel berita.

Keberadaan alat-alat ini mewakili adaptasi industri kepada perkembangan teknologi yang semakin pesat. AI membantu dalam berbagai aspek pekerjaan, khususnya dalam memudahkan manajemen konten sehingga jurnalis bisa berfokus pada aspek yang lebih kreatif dan analitis.

Namun, meski pengembangan teknologi relatif mudah, adopsi di kalangan jurnalis menjadi tantangan tersendiri. Banyak yang merasa skeptis terhadap penggunaan AI dalam pekerjaan mereka, terutama mengingat bahwa beberapa di antaranya lebih nyaman dengan metode tradisional.

Related posts